Breaking

Tolak ORMEK di UNTARA, Cipayung Tantang Debat Terbuka

LINTASSUARAINDONESIA.COM — Mahasiswa Teknik Universitas Tangerang Raya (UNTARA) menyuarakan penolakan terhadap organisasi mahasiswa ekstra kampus (ORMEK) melalui spanduk pada kegiatan PKKMB. Cipayung UNTARA yang terdiri dari Komisariat HMI, PMII, dan GMNI merespons penolakan tersebut dengan tantangan debat terbuka. (19/9/2026)

Spanduk bertuliskan “Fakultas Teknik Anti ORMEK” membentang di gedung UNTARA dan memicu respons Cipayung. Mereka meminta kelompok yang memasang spanduk menjelaskan alasan, dan dasar aturan penolakannya secara terbuka.

Ketua HMI UNTARA, Kanda Feri, meminta pihak yang menolak ORMEK menunjukkan dasar hukum yang mereka gunakan.

“Kalau memang punya dasar untuk menolak ORMEK, tunjukkan dasar hukumnya. Jangan cuma menulis di spanduk. Mari duduk bersama, buka aturannya, dan kita uji argumentasinya,” kata Feri.

Ia menegaskan setiap mahasiswa berhak memilih organisasi dan menentukan arah gerakannya. Ia meminta setiap kelompok menghormati pilihan organisasi mahasiswa lain dan tidak membatasi pilihan tersebut tanpa dasar aturan yang jelas.

Ketua Komisariat GMNI UNTARA, Bung Nazif, menantang pembuat spanduk menghadapi debat terbuka.

“Kalau berani membuat spanduk, harus berani tampil dalam ruang debat. Saya tantang debat terbuka. Jangan hanya berani menulis di dinding. Mari bertemu, bicara langsung, dan pertanggungjawabkan argumen masing-masing di depan mahasiswa,” ucap Nazif.

Nazif mengajak mahasiswa menghidupkan kembali tradisi adu gagasan dan argumentasi. Ia meminta pihak yang menolak ORMEK menunjukkan pasal yang mendukung penolakannya.

“Kalau tidak setuju, lawan dengan gagasan. Kalau punya dasar hukum, tunjukkan pasalnya. Jangan jadikan spanduk sebagai jalan pintas untuk membatasi ruang gerak mahasiswa,” tegasnya.

Ketua Komisariat PMII UNTARA, Sahabati Tasya, turut menyoroti Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018. Menurut Tasya, regulasi tersebut mengatur kegiatan kemahasiswaan dan membuka ruang bagi kegiatan yang melibatkan atau bekerja sama dengan organisasi kemahasiswaan ekstra perguruan tinggi sesuai ketentuan perguruan tinggi serta larangan politik praktis di lingkungan kampus.

Tasya meminta pihak yang memasang spanduk menjelaskan persoalan secara terbuka dan menghadapi debat mengenai aturan kampus, kebebasan mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, serta batas aktivitas organisasi ekstra kampus.

“Kami siap debat terbuka di UNTARA. Tidak perlu sembunyi di balik spanduk. Hadir, duduk bersama, dan pertanggungjawabkan gagasan kalian di depan mahasiswa,” ucapnya.

Tasya menegaskan setiap mahasiswa memiliki sudut pandang dan pilihan organisasi masing-masing. Ia meminta semua pihak membuka ruang dialog dan menguji setiap kritik melalui argumentasi.

“Kalau ingin melawan gagasan, lawan gagasannya. Kalau ingin mengkritik, sampaikan kritiknya. Kami siap bertemu, berdiskusi, dan debat terbuka. Jangan berhenti pada spanduk,” Pungkasnya.

(Lif)

Tinggalkan komentar