HMI Badko Jabodetabeka-Banten Bagikan Masker, Desak Benahi TPA Jatiwaringin

Lintassuaraindonesia.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badko Jabodetabeka-Banten bersama Relawan Peduli Sampah turun langsung ke lokasi kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, sekaligus membagikan masker kepada masyarakat yang terdampak kepulan asap tebal.

Aksi kemanusiaan ini merupakan respons atas kondisi darurat lingkungan yang hingga kini masih dirasakan warga sekitar. Asap pekat yang terus menyelimuti kawasan TPA tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengelolaan sampah di Kabupaten Tangerang telah mencapai titik yang memerlukan langkah penanganan yang lebih serius.

Ketua Bidang HMI Badko Jabodetabeka-Banten, Muhamad Agus, menilai kebakaran TPA Jatiwaringin tidak boleh dipandang sebagai musibah semata. Menurutnya, peristiwa ini merupakan konsekuensi dari tata kelola persampahan yang belum berjalan secara optimal.

“Kebakaran TPA Jatiwaringin harus menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kabupaten Tangerang. Jangan hanya fokus memadamkan api, tetapi abaikan akar persoalannya. Selama sistem pengelolaan sampah masih mengandalkan pola lama tanpa pembenahan yang serius, kebakaran serupa akan terus berulang dan masyarakat akan kembali menjadi korban.” Ucapnya.

Muhamad Agus menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tangerang harus segera mengambil langkah konkret, bukan sekadar memberikan respons ketika bencana telah terjadi. Pemerintah perlu mengevaluasi secara menyeluruh sistem pengelolaan TPA, memperkuat mitigasi kebakaran, meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana, serta mempercepat penerapan teknologi pengelolaan sampah yang lebih modern, aman, dan ramah lingkungan.

“Hak masyarakat atas lingkungan yang sehat dijamin oleh konstitusi. Karena itu, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengelolaan sampah tidak menimbulkan ancaman bagi kesehatan maupun keselamatan warga. Jangan biarkan masyarakat terus menghirup asap akibat lemahnya tata kelola persampahan,” tegasnya.

Selain membagikan masker, HMI Badko Jabodetabeka-Banten juga berdialog dengan warga untuk menyerap berbagai keluhan yang muncul sejak kebakaran terjadi. Keluhan tersebut didominasi gangguan pernapasan, bau menyengat, serta kekhawatiran masyarakat terhadap dampak jangka panjang pencemaran udara.

HMI Badko Jabodetabeka-Banten menyampaikan apresiasi kepada petugas pemadam kebakaran, BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, dan para relawan yang bekerja tanpa henti menangani kebakaran. Organisasi juga mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Banten dalam membantu proses penanganan di lapangan.

Namun demikian, HMI Badko Jabodetabeka-Banten menegaskan bahwa penanganan darurat saja tidak cukup. Pemerintah Kabupaten Tangerang harus menjadikan kebakaran TPA Jatiwaringin sebagai momentum reformasi total tata kelola persampahan. Selama persoalan pengelolaan sampah tidak diselesaikan dari hulu hingga hilir, risiko kebakaran, pencemaran lingkungan, dan ancaman kesehatan masyarakat akan terus membayangi.

HMI Badko Jabodetabeka-Banten mendesak Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk segera:

  • Melakukan audit menyeluruh terhadap sistem pengelolaan TPA Jatiwaringin.
  • Menyusun langkah mitigasi kebakaran yang terukur dan berkelanjutan.
  • Mempercepat penerapan teknologi pengolahan sampah yang mengurangi ketergantungan pada sistem open dumping.
  • Menjamin layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak asap kebakaran.
  • Menyampaikan perkembangan penanganan secara terbuka kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas.

“Jangan jadikan kebakaran TPA Jatiwaringin sebagai peristiwa yang hanya ramai dibicarakan ketika api masih menyala. Yang dibutuhkan masyarakat adalah keberanian pemerintah untuk melakukan pembenahan secara nyata, bukan sekadar janji setelah bencana berlalu.”Pungkas Agus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *